HCMC Expo 2007

14 December 2007

Tanggal 10 - 14 October ini pameran Furniture & handicraft tahunan terbesar di Vietnam digelar. Ini mirip sekali dengan pameran di Jakarta yang biasanya diadakan bulan Maret - April setiap tahunnya.
Saya sempat mengunjungi pameran tersebut hari Rabu, 10-Oct selama beberapa jam. Melihat bagaimana para buyer dan exhibitor begitu antusias, dan begitu banyak peserta maupun pengunjung yang sedang melakukan dialog di stand pameran masing2 mengingatkan saya akan pameran serupa di Indonesia sekitar tahun 1995 - 1998.

Kenapa? 4 tahun terakhir saya amati pameran serupa di Arena Pekan Raya Jakarta Kemayoran semakin hari semakin berkurang dan konsentrasi produk yang dipajang telah bergeser, tidak banyak desain baru dan beberapa perusahaan ternama tidak ikut tampil.

Kita semua menyadari bahwa beberapa tahun terakhir para buyer telah mengalihkan pembelian mereka ke negara ini, Vietnam, begitu pesat pertumbuhan ekonominya sejak 2003.
Terutama kayu, saya ingin berbagi dengan anda berapa besar pertumbuhan eksportasi furniture kayu di sini dan silahkan bandingkan dengan yang ada di Indonesia saat ini.


Kalau diamati tentang perubahan sikap para buyer memindahkan ordernya dari Indonesia ke negara tetangga, sementara ini saya punya kesimpulan sementara bahwa harga adalah yang menjadi penyebab utama. Namun ternyata kalau saya dengar dari beberapa sumber adalah masih ada sejumlah besar furniture diekspor dari Malaysia.

Walaupun harga sudah pasti lebih mahal dari Vietnam, bahkan dari Indonesia. Lalu mengapa furniture Malaysia masih kompetitif?

Kalimantan sebagai sumber bahan baku terbesar di Indonesia tetapi di sana tidak terdapat cukup banyak pabrik furniture yang mampu memproduksi furniture berkualitas. Sumber daya manusia berkualitas untuk memproduksi furniture ternyata lebih banyak berada di pulau Jawa. Dengan demikian perlu ada tambahan biaya distribusi, dan kita semua tahu tidak murni hanya distribusi pengangkutan. Ada banyak biaya yang tidak pernah bisa terlihat dalam sistem akuntansi perusahaan atau yang tidak bisa diprediksi dengan tepat pada waktu perhitungan biaya.

Pada akhirnya biaya bahan baku yang memiliki porsi sekitar 60-70% dari total biaya berkembang di luar kontrol.

Yang kedua, walaupun pada beberapa perusahaan furniture di Indonesia mampu memberikan harga jual yang baik bagi pembeli karena mereka sangat efisien dalam berproduksi, tetap saja emosional pembeli ikut memberikan pengaruh.
Keinginan untuk mengunjungi Indonesia menjadi jauh berkurang dengan adanya begitu banyak 'berita buruk' yang dimuat di berbagai media massa entah itu dari penerbangan, sosial, politik, kriminalitas yang kadang terlalu di dramatisir.
Hingga ketika mendengar nama Indonesia saja orang sudah membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi.
Kekuatiran apabila terlanjur mengirimkan order akan ada kemungkinan terjadi 'force majeure' sehingga produk tidak bisa terkirim.

Yang menyedihkan sebenarnya menurut saya adalah bahwa banyak masyarakat awam yang tidak mau mengerti dan memahami dampak secara meluas (nasional) akan tindak kekerasan, demonstrasi, atau apapun yang membuat kehidupan ekonomi menjadi terganggu. Seperti pemikiran bahwa kita tidak membutuhkan pihak luar.
Siapapun, negara maju sekalipun seperti katakan Italia, Perancis, Amerika, Singapura di manapun di muka bumi ini mereka membutuhkan negara lain untuk menjaga stabilitas ekonomi negara.

Kembali kalau kita lihat dalam tabel target turnover total ekspor wood furniture tahun 2007 adalah 2,5 US$ Billion bukahlah isapan jempol. melihat bagaimana aktifitas kedua belah pihak yang konstruktif penjualan melampaui target justru bisa terjadi.

1 comments:

Post a Comment