Ikatkan TV dan Furniture ke Dinding untuk Keselamatan

06 October 2011

Pics by: CPSC
Selama periode 2000 - 2011, CPSC di Amerika menerima laporan sebanyak 245 kasus kematian anak-anak yang disebabkan karena tertimpa furniture atau televisi yang ada di atas furniture.
Angka ini tentu saja bukan angka yang kecil, apalagi hampir 90% melibatkan anak balita. Pada usia tersebut anak-anak senang mencoba memanjat apapun di dalam rumah termasuk kabinet televisi anda.

Kebanyakan furniture yang 'terlibat' dalam kecelakaan seperti itu adalah kabinet TV dengan banyak laci di depan, meja sudut, atau almari TV.

Untuk mencegah hal tersebut terjadi pada anak anda atau anak lain yang sedang berkunjung di rumah anda, beberapa tip di bawah ini sangat direkomendasikan oleh CPSC.
1. Ikat kabinet TV dengan lantai atau dinding menggunakan sekrup atau alat ikat lain yang kuat.
2. Letakkan televisi di atas meja yang rendah.
3. Ikat televisi pada furniture (apabila tidak terdapat meja rendah) dan posisikan televisi sedalam mungkin di belakang meja, mendekati dinding.
4. Simpan remote control, mainan, atau benda lain yang menarik sejauh mungkin dari televisi atau furniture.
5. Singkirkan kabel dan televisi jauh dari jangkauan anak-anak.
6. Pastikan beberapa perabot dapur (microwave, kulkas, kompor, dll) terpasang kuat di lantai atau dinding.
7. Apabila langkah-langkah tersebut di atas tidak memungkinkan dilakukan, awasi selalu pergerakan anak-anak.

Bagi anda pelaku industri atau desainer furniture, ada baiknya hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan pada saat proses perencanaan maupun produksi.

CPSC



Tiruan IKEA di kota Kunming, Cina

06 August 2011

Sejak lama Cina dikenal masyarakat dunia sebagai negara yang memiliki keahlian 'memalsukan' berbagai jenis barang, terutama dari merek ternama. Baik berupa tas dari merek terkenal, elektronik, hingga furniture.
Sekitar 2-3 minggu yang lalu DaVinci furniture di Cina menjadi berita hangat karena produknya yang sebenarnya buatan Cina, tetapi diklaim buatan Italia. Selain itu seorang blogger Amerika yang tinggal di Cina menulis dalam blognya BirdAbroad tentang Apple Store palsu di kota Kunming.
Dan kini, di kota yang sama, juga ditemukan toko furniture bernama '11 Furniture' yang meniru hampir keseluruhan konsep IKEA store. Warna khas biru dan kuning, tata ruang di dalam toko yang berdasarkan 'mock-up', petunjuk-petunjuk di dalam toko, hingga menu restoran IKEA.

11 Furniture apabila diucapkan dalam bahasa Cina, akan kedengaran mirip dengan pengucapan IKEA oleh rakyat Cina. “Shi Yi Jia Ju" adalah pengucapan untuk nama 11 Furniture, dan “Yi Jia Jia Ju” adalah pengucapan untuk IKEA dalam bahasa Cina.
Di website resmi IKEA sendiri tidak ada menyebutkan lokasi IKEA Store di kota Kunming. Kelihatannya Cina saat ini bukan hanya ahli dalam hal pemalsuan produk, akan tetapi sudah mulai merambah pemalsuan konsep maupun strategi pemasaran dari beberapa retail terkenal.
Dan nampaknya banyak pihak yang mulai kuatir akhir-akhir ini melakukan 'sweeping' masalah pembajakan di Cina, khususnya bagian selatan.

Bagian depan toko 11 Furniture (foto: reuters)

Sebuah keluarga sedang memilih produk (foto: reuters)

Karyawan memindahkan troli (foto:reuters)



Militer Vietnam di balik pembalakan liar di Laos

29 July 2011

Log di Qui Nhon, Vietnam - photo EIA
Sebuah investigasi sehubungan dengan semakin mengecilnya kawasan hutan di Laos sejak 2010 - 2011 kemarin Kamis, 28 Juli 2011 melaporkan bahwa militer Vietnam berperan sangat besar dalam pembalakan liar hutan di Laos selama ini. Vietnam sebagai pengekspor produk kayu ke Eropa dan Amerika mengandalkan pasokan bahan baku kayu logs 80% dari beberapa negara penghasil kayu termasuk Malaysia, Laos, Selandia Baru, Kepulauan Solomon, Uruguay, Afrika Selatan dan lainnya.

Investigasi tersebut dilakukan oleh EIA (Environmental Investigation Agency) yang bermarkas besar di London, Inggris selama kurun waktu 2010 - 2011 dengan judul CROSSROADS.
Jenis kayu yang selama ini secara ilegal didatangkan ke Vietnam adalah kayu 'Yellow Balau' dan Keruing. Dilaporkan pula bahwa pembeli kayu ilegal terbesar adalah sebuah perusahaan yang dimiliki oleh militer Vietnam.
Pada kunjungan terselubung di sebuah dermaga laut bernama Qui Nhon, Vietnam, investigator menemukan fakta ratusan kayu Yellow Balau di dermaga tersebut dimiliki oleh sebuah perusahaan Vietnam dengan mencantumkan nama instansi militer tertentu.

Dari hasil penemuan tersebut, di dalam laporannya EIA memberikan rekomendasi kepada 4 pihak yang memiliki peranan penting dalam memberantas pembalakan liar tersebut.
1. Pemerintah Laos
- Memperkuat pelarangan ekspor kayu bulat
- Mempublikasikan semua batas kuota penebangan hutan dan proses seleksinya.
- Menkaji ulang aturan pembukaan hutan untuk lahan pertanian.

2. Pemerintah Vietnam
- Menghargai peraturan negara Laos dengan cara melarang impor kayu dari Laos.
- Membuka pembicaraan bilateral dengan pemerintah Laos tentang tatacara perdagangan kayu kedua negara.
- Bekerjasama dengan asosiasi pengusaha industri kayu di Vietnam untuk tidak menggunakan kayu dari Laos.
- Untuk tidak melibatkan militer dalam operasi pendistribusian kayu dari Laos.

3. Uni Eropa
- Membuka diskusi dengan kedua pemerintah Laos & Vietnam terkati masalah pembalakan liar.

4. Perusahaan industri kayu dan peritel yang terkait
- Memastikan bahwa sumber bahan baku kayu dari Vietnam memiliki dokumen yang bukan diimpor dari Laos.

Pada tahun 2008, EIA sudah pernah memberikan laporan serupa terkati pembalakan liar di Laos dan distribusinya ke Vietnam yang berjudul BORDERLINES. Apabila anda ingin mendapatkan laporan dalam file pdf, bisa diunduh di website EIA pada link berikut.

BORDERLINES
CROSSROADS



ROSS Store menarik produk Kursi Akasia

23 July 2011

Kembali CPSC (Consumer Product Safety Commission) di Amerika hari ini 22 Juli 2011 mengumumkan penarikan produk yang bermasalah dengan keselamatan konsumen. Kali ini sebuah toko retail bernama ROSS menarik produk kursi dari kayu Akasia buatan Vietnam. Kursi tersebut disebutkan bisa ambruk ketika ada beban di atasnya. Tidak dijelaskan secara rinci karena kursi tidak stabil dan mudah jatuh atau karena konstruksi antar sambungan yang kurang kuat sehingga mudah lepas.

Sekitar 1.200 kursi yang sudah terjual dan konsumen dianjurkan untuk segera mengembalikan kursi tersebut ke toko ROSS untuk mendapatkan uang pengganti. CPSC sudah mendapatkan 5 laporan tentang produk ini dan 4 laporan ditulis mengalami luka ringan.

ROSS menjual produk ini dengan harga 40USD pada periode Maret-Mei 2011.


Usaha Mebel Jepara Meredup

14 July 2011

Peneliti Center For International Fouretry Research (CIFOR), Sulthon Al Amin mengatakan, industri furniture telah menjadi sumber pendapatan di Jepara selama bertahun-tahun. Tetapi, berdasarkan survey tahun 2010 jumlah unit usaha mebel di Jepara terus mengalami penurunan sebesar 20 persen dari tahun 2005 yakni menjadi 11.597 unit.

CIFOR merupakan salah satu dari 15 pusat penelitian dalam kelompok konsultatif bagi Penelitian Pertanian International (Consultative Group On International Agricultural Research). "Penurunan terbesar dari 12.763 unit di tahun 2005 menjadi 8.289 unit di tahun 2010 atau sebesar 35 persen," kata Sulthon di Jepara The Word Carving Centre, Rabu (13/7).

Padahal kata Sulthon, usaha mebel memberikan kontribusi sekitar 27 persen perekonomian daerah yang terkenal dengan seni ukir ini. Parahnya lagi kata dia, distribusi nilai tambah yang didapat para pelaku industri mebel dikuasai oleh pemain asing yang menikmati sekitar 61 persen permeter kubik bahan baku, sedangkan pemain lokal seperti petani hutan, penjual kayu, pengrajin mebel dan eksportir didalam negeri hanya memperoleh sekitar 38.9 persen.

Sementara itu lanjut Sulthon lagi, pengrajin kecil sendiri hanya memperoleh sekitar 3,6 persen dari distribusi nilai tambah tersebut. "Walaupun lebih banyak pelaku industri mebel di tingkat pengrajin (UKM) tetapi distribusi nilai tambahnya tidak banyak dirasakan oleh pengrajin tapi lebih kepada perusahaan besar yang menampung produk hasil pengrajin kecil," tandasnya.

Trend volume dan nilai ekspor furniture Indonesia cenderung menurun, dari $ 127 juta pada tahun 2005 menjadi $ 118 juta pada tahun 2007. Kebanyakan dari pelaku industri ini memproduksi produk yang bernilai tambah rendah dan dikategorikan sebagai 'sunset industri' oleh pemerintah.(Jawa Pos National Network)